Mungkin, kita pernah sangat berharap
kepada Allah untuk memperoleh sesuatu, tapi pinta itu tak kunjung dikabulkan.
Sebaliknya, mungkin kita sering dikaruniai Allah berbagai nikmat, tanpa pernah
sedetikpun terbesit di hati kita. Hidup memang penuh misteri. Karenanya, seringkali
manusia salah dalam menilai sebuah peristiwa. Apa yang manis dan indah tak jarang justru
mendatangkan malapetaka. Namun, sebuah peristiwa pahit dan berat, tak sedikit
yang menjadi pintu bahagia.
Sebab itulah, Allah melarang kita melihat
segala sesuatu dari bungkus luarnya saja. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah :216)
Perjalanan dakwah, tak jauh berbeda. Siapa
sangka, penderitaan dan tekanan luar biasa yang dialami para sahabat di Makkah,
justru melahirkan generasi terbaik sepanjang masa. Pembunuhan Sumayyah oleh Abu
Jahal dan keluarganya, adalah tiket surga yang pertama.
Karenanya, sudut pandang seorang muslim
terhadap suatu masalah, harus dikembalikan secara proporsional sesuai tuntunan
Al-Qur’an dan sunnah. Sebuah kekalahan, kesulitan, kegagalan, pada dasarnya
adalah momentum yang akan mengembalikan kita pada jalan yang lebih diridhai
Allah. Lebih dari itu, ujian atau musibah, akan lebih membuka berbagai
kekurangan yang dimiliki. Dan dari sanalah kekalahan berubah menjadi momentum
meraih kemenangan.
Setidaknya, ada dua langkah yang paling
penting dilakukan. Luiruskan niat dan rapatkan barisan. Luruskan niat, mamiliki
dimensi peningkatan iman (iman amiiq) dan kejelasan serta penyatuan visi
(wudhuhul fikrah). Sementara rapatkan barisan, adalah upaya membangun kekuatan
institusi dakwah melalui tiga hal, spesialisasi dan pembagian kerja (Attandzimu
ad-daqiq al-mabni ’ala tsiqah), dan mengembangkan ukhuwah yang kokoh
(al-ukhuwah al-mantinah).
Toleransi Rasulullah dalam Berdakwah
Sedang Nabi Muhammad saw duduk bersama para
sahabat, muncul seorang pemuda berjumpa Nabi lalu berkata "Izinkanlah saya
untuk berzina." Mendengar perkataan yang biadab itu, sahabat-sahabat
terpinga-pinga dan merasa marah.
Namun Nabi Muhammad bersikap tenang dan
melayan dengan baik. Baginda menyuruh pemuda itu hampir kepadanya lalu bertanya
"Maukah engkau berzina dengan ibumu?" Pemuda itu menjawab
"Tidak!". Lantas Nabi bersabda "Kalau begitu, orang-orang lain
juga tidak suka berbuat jahat kepada ibu-ibu mereka." Nabi kemudian
mengajukan soalan kedua "Sukakah kamu berbuat jahat dengan saudara
perempuanmu sendiri? atau sukakah kamu sekiranya isteri kamu dinodai
orang?" Kesemua soalan itu dijawab oleh pemuda itu dengan
"Tidak!".
Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya
yang mulia ke atas pemuda itu sambil berdoa "Ya Allah, sucikanlah hati
pemuda ini. Ampunkanlah dosanya dan peliharakanlah dia dari melakukan
zina." Sejak peristiwa itu, tiadalah perkara yang paling dibenci oleh
pemuda itu selain zina.
Moral & Iktibar :
Sifat berlemah-lembut dan toleransi amat
perlu ada dalam setiap pendakwah.
Sifat lemah-lembut kunci bagi kejayaan
dakwah.
Sifat toleransi merupakan satu rahmat dan
pemberian Allah yang bersifat dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Perkataan yang kasar dan kesat bukan
menghampirkan orang lain kepada kita malah akan menjauhkannya lagi.
Sebelum melakukan sesuatu perkara, perlulah
bermusyuarat atau berbincang (bertukar-tukra fikiran) dengan orang lain.
Jauhkan bertindak mengikut hawa nafsu karena
ia datang dari syaitan.
Kemukakanlah soalan kepada orang lain
walaupun soalan itu kemungkinan tidak ada logiknya, sementara orang yang
ditanya pula berikanlah layanan yang sepatutnya dengan ikhlas.
Berikanlah nasihat atau teguran kepada orang
yang memerlukan, namun teguran itu hendaklah dilakukan dengan ihsan kerana
Allah semata-mata semoga orang yang berkenaan tidak berasa diperhinakan dan
terus menerus terbiar menjadi mangsa syaitan.
Berdakwah dengan hikmah memberikan kesadaran
dan keinsafan kepada orang yang di dakwah.
Sumber: Unknown
Pohon dan Manusia
Pohon sangat ”akrab” dengan diri kita. Hampir tiap insan pernah menanam pohon. Dalam
menanam pohon apapun, setidaknya kita selalu memperhatikan lima kondisi agar
menjadikannya unggul, berkualitas dan menjadi naungan sekelilingnya.
Siapapun yang menanam pohon, pasti
memperhatikan bibit. Karena bibit yang unggul menentukan apakah suatu pohon
kelak berkualitas atau tidak. Demikian pula karakter, sifat dan akhlak seorang
muslim, adalah faktor penting bagi tumbuh atau tidaknya ia menjadi salah satu
kelompok yang diunggulkan.
Faktor yang tidak kalah penting adalah tanah
atau lingkungan. Sebuah bibit unggul sekalipun, jika tumbuh di tanah kering,
tidak kondusif atau tercemar, akan menumbuhkan pohon yang tidak berkualitas.
Begitupun manusia, apapun sifat dasarnya, jika hidup di lingkungan ”tidak sehat”
besar kemungkinan akan tumbuh tidak berkualitas.
Pohon sangat membutuhkan air. Ia akan mati
tanpa air. Demikian halnya jiwa manusia, ia butuh siraman air rohani. Tanpa
siraman ini, jiwa manusia akan kering keronta, bagai pohon yang meranggas.
Meski terkadang air datang karena turun hujan, tapi kita mesti sering menyirami
pohon itu. Apalagi jika kemarau tiba, cepat atau lambat, pohon sendirilah yang
mengusahakan air untuk dirinya. Siraman inilah yang bisa menjadikannya bertahan
hidup dan tumbuh. Sama halnya dengan manusia. Ia mesti terus menyirami rohani
dan jiwanya, supaya tetap sensitif pada kebenaran. Karena disanalah kita
temukan hara petunjuk.
Pohon juga butuh cahaya matahari. Manusia pun
demikian, ia tak bisa hidup tanpa cahaya hidayah illahi. Sebab cahaya hidup
manusia adalah hidayah itu sendiri. Tanpa hidayah, hidup akan terasa hampa,
gersang, sepi tanpa arah dan tujuan. Cepat atau lambat, tiap ranting pohon akan
bergerak menuju cahaya matahari. Cepat atau lambat, manusia yang masih
mendengarkan suara hatinya akan mencari hidayah illahi.
Dalam menanam pohon jangan lupa pula memberi
pupuk, yang diperlukan untuk menunjang kehidupannya. Adakalanya bibit, tanah ,
cahaya, dan air tidak begitu bagus, namun jika pemupukannya benar, akan
menghsilkn pohon berkualitas. Sifat dasar manusia boleh jadi biasa saja.
Lingkunganpun tidak mendukung kearah kebaikan. Namun, jika ia terus mengkaji
kebenaran, meresapi ajaran Islam lewat terus menerus, memupuk diri dalam ilmu,
dan amal Islam, akan menghasilkan manusia berkualitas.
Dengan kelima faktor ini, sebuah pohon akan
mempunyai akar yang kuat untuk menunjang hidupnya. Batangnya kokoh menahan
terpaan angin. Daun – daunnya rimbun menyuguhkan keteduhan. Buahnya segar untuk
para pengembara. Kekuatan akar ini tak lain prinsip hidup dan keimanan
(tauhid). Batang adalah kepribadian (akhlak). aun – daun adalah kebijakan
(hikmah). Dan buah – buah segar adalah ilmu yang diamalkan dan bermanfaat.
Sumber: Unknown

0 Response to " Luruskan Niat Rapatkan Barisan "
Posting Komentar