Oleh Dr. Engku Ahmad Zaki Engku Alwi
Agama
Islam yang menjadi pegangan umat manusia pada dasarnya mengungkap makna
kepatuhan dan ketundukan secara menyeluruh kepada Allah SWT. Kerangka
pengertian ini tidak akan tercapai tanpa dimulai dengan sifat ikhlas--tawakal
sepenuhnya ke hadirat Ilahi yang Maha Esa secara mutlak tanpa terselip tujuan
atau motif lain yang bersifat duniawi.
Bukankah
Allah SWT berfirman: ''Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk
beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan teguh. Mendirikan shalat dan
mengeluarkan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang benar.'' (QS
Al-Bayyinah, ayat 5) Dari sudut bahasa, istilah 'ikhlas' berasal dari kata
'khalish' yang berarti murni, suci, bersih, tidak bercampur dengan noda atau
yang kotor. Laksana susu yang suci dan bersih dalam perut sapi, tidak bercampur
dengan darah dan kotoran.
Adapun
Imam al-Ghazali menegaskan, ikhlas adalah sidqun niyyah fil 'amal, yaitu niat
yang benar ketika melaksanakan suatu pekerjaan. Dengan kata lain, setiap amal
soleh dan kebajikan yang ingin dilakukan semestinya berorientasi karena Allah.
Tanpa keikhlasan, semua amal kebajikan yang dilakukan, sangat mudah terkena
penyakit hati yang sangat berbahaya yaitu riya dan bangga hati.
Orang
yang ikhlas adalah manusia yang dilindungi oleh Allah dari penyakit hati
tersebut. Rasulullah memberi peringatan kepada umat Islam agar menjauhi hal-hal
yang bisa menodai dan mengikis sifat keikhlasan kepada Allah seperti sombong.
Sabda Rasulullah SAW: ''Sedikit dari sifat riya itu adalah syirik.Maka, barang
siapa yang memusuhi wali-wali Allah niscaya sesungguhnya dia telah memusuhi
Allah. Sesungguhnya Allah sangat mengasihi orang yang berbakti dan bertakwa
serta yang tidak diketahui orang lain tentang dirinya. Jika mereka tidak ada
dan hilang dalam acara apapun, mereka tidak dicari oleh orang lain, dan kalau
mereka hadir di situ mereka tidak begitu dikenali oleh orang lain. Hati nurani
mereka umpama lampu petunjuk yang akan menyinari mereka hingga mereka keluar dari
tempat yang gelap gelita.'' (Hadis riwayat Hakim)
Itulah
harapan dan impian mereka dengan pengabdian yang penuh tulus dan ikhlas
semata-mata karena Allah. Allah berfirman, ''Katakanlah: sesungguhnya solatku
dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara
dan mengatur seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah aku
diperintahkan dan aku (di antara seluruh umatku) adalah orang yang pertama
Islam (yang berserah diri kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya).'' (QS
al-An'am, ayat 162 - 163).
Imam
al-Ghazali menyatakan, semua manusia sebenarnya celaka, kecuali yang berilmu.
Ilmuwan juga celaka, kecuali yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Yang
disebutkan terakhir ini pun celaka, kecuali yang menghiasi diri mereka dengan
sifat ikhlas. Ringkasnya, selama seorang Muslim itu menyerahkan dirinya sepenuh
hati kepada Allah dengan penuh keikhlasan, maka selama itulah segala gerak
gerik dan diamnya, tidur dan jaganya akan dinilai sebagai satu langkah ikhlas
dan tulus menuju keridaan Allah.
Tiga
ciri ikhlas
Seorang
yang ikhlas memiliki ciri tersendiri sehingga menjadi lambang keperibadiannya:
Pertama,
tidak terpengaruh atau termakan oleh pujian dan cercaan orang lain. Bagi mereka
segala pujian yang indah atau cercaan yang buruk adalah sama nilainya.
Kedua,
tidak mengharapkan balasan atau ganjaran dari amal kebajikan yang pernah
dilakukan, tetapi dia hanya mengharapkan keridaan Ilahi.
Rasulullah
SAW bersabda: ''Pada hari kiamat nanti, dunia akan dibawa, kemudian
dipisah-pisahkan, apa yang dikerjakan karena Allah dan apa yang dilakukan bukan
karena Allah, lalu dicampakkan ke dalam api neraka.'' (Hadits riwayat Baihaqi)
Ketiga,
orang yang tidak pernah mengungkit-ungkit kembali segala kebaikan yang pernah
dilakukan. Artinya, orang yang selalu menyebut tentang kebaikan yang pernah
dilakukan, apalagi menghina dan memburuk-burukkan orang yang pernah diberikan
bantuan, maka sesungguhnya dia sangat jauh dari golongan orang yang ikhlas.
Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita agar bersedekah secara diam-diam, jauh
dari penglihatan orang banyak. Umpama tangan kanan memberi sedangkan tangan
kiri tidak mengetahuinya. Sabda Rasulullah SAW: ''Bahwa sesungguhnya Allah
tidak melihat kepada tubuh dan rupa kamu, tetapi Dia hanya melihat kepada hati
kamu.'' (Hadits riwayat Muslim)

0 Response to " Hati yang Ikhlas "
Posting Komentar