Tidak ada yang tidak mungkin dan tidak berubah di dunia ini kecuali kita
sendiri, begitu pula bangsa kita. Saat ini bangsa kita sedang terpuruk dan
lemah. Namun suatu saat akan datang masanya dimana bangsa ini bangkit dan
memimpin peradaban manusia. Karena kepemimpinan bangsa-bangsa itu seperti roda,
ada gilirannya di atas dan ada saatnya di bawah. Saat itu pasti akan datang
karena selalu ada orang-orang yang bekerja untuk itu, untuk perubahan. Kalau
bukan kita, maka akan ada orang lain.
Sejarah telah mencatat bahwa perubahan-perubahan besar yang pernah terjadi
pada suatu bangsa pasti didalangi oleh pemuda yang menjadi anak bangsanya.
Motornya pasti pemuda, walaupun kenyataannya tidak selalu yang menjadi motor
akan mengisi alam perubahan yang dibuatnya itu. Reformasi ’98 adalah contoh
sederhana untuk hal itu.
Salah satu poin penting adalah, perubahan itu datangnya dari golongan elit. Jumlah mereka sedikit, tapi daya aruhnya besar. Mengapa terjadi seperti itu? Karena yang sedikit ini memiliki peran yang penting disebabkan kualitas mereka yang besar. Bersyukurlah, karena dengan itu, kita masih bisa menghitung jumlah pahlawan yang harus kita hargai.
Salah satu poin penting adalah, perubahan itu datangnya dari golongan elit. Jumlah mereka sedikit, tapi daya aruhnya besar. Mengapa terjadi seperti itu? Karena yang sedikit ini memiliki peran yang penting disebabkan kualitas mereka yang besar. Bersyukurlah, karena dengan itu, kita masih bisa menghitung jumlah pahlawan yang harus kita hargai.
Mahasiswa merupakan golongan kaum intelektual. Dari sekian banyak pemuda di
negeri ini, merekalah yang memiliki kapasitas keilmuan lebih dari sisanya. Dan
jumlah mereka sedikit. Sebenarnya, merekalah yang paling bisa diharapkan untuk
memimpin perubahan bangsa ini. Dan pada kenyataannnya memang bangsa ini
berharap pada mereka, walaupun bangsa ini tidak menyadarinya.
Karena itu, mahasiswa, tanpa ada hak menolak, telah dibebani tiga buah
peran:
1) agen perubahan, 2) penjaga nilai, dan 3) cadangan masa depan. Karena itu
mahasiswa ideal adalah mereka yang dapat menyadari, memahami, dan menjalankan
peran yang diberikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya.
Diperlukan kapasitas yang cukup untuk menjalankan peran-peran tersebut
dengan baik. Ada tiga kelompok besar kapasitas yang diperlukan:
1) kapasitas akhlak dan moral, 2) kapasitas sosial politik, 3) kapasitas
keilmuan dan keprofesian.
Seorang agen perubahan dituntut untuk memberikan pengaruh kepada manusia
yang lain sehingga perubahan itu dapat terjadi di sekitarnya. Ini menuntut
adanya pengetahuan yang cukup tentang manusia. Di sinilah letak pentingnya
kapasitas sosial politik. Agar para agen tersebut dapat berkomunikasi secara
baik dengan manusia lainnya untuk menyampaikan gagasan perubahan yang dibawanya
serta efektif dalam merekayasa perubahan sosial di sekitarnya.
Mahasiswa sebagai penjaga nilai memerlukan kapasitas akhlak dan moral yang
baik. Dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa akar permasalahan yang ada di
bangsa ini adalah busuknya moralitas. Mahasiswalah yang masih dianggap idealis
untuk mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah. Karena mahasiswa
dinilai tidak memiliki kepentingan politis dalam memperjuangkan apa yang
dikatakannya. Karena itulah gerakan mahasiswa sering disebut sebagai gerakan
moral.
Peran yang ketiga adalah sebagai cadangan masa depan (iron stock).
Mahasiswalah yang akan mengisi pos-pos kepemimpinan di bangsa ini. Mereka
adalah calon ilmuan, insinyur, dokter, menteri, jaksa, polisi, presiden, dsb.
Untuk bisa memimpin, kemampuan retorika dan moralitas yang baik saja tidak
cukup. Melainkan diperlukan juga kompetensi kogkrit yang mumpuni di bidang
masing-masing. Semakin banyak bidang yang kita unggul di dalamnya, semakin
banyak bahasa yang bisa kita gunakan untuk membahasakan keinginan-keinginan
kita.

0 Response to " Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan "
Posting Komentar